Breaking News
Loading...
Selasa, 27 Agustus 2013

Info Post
BRUNEI-(IDB) : Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel, Selasa,  mengatakan pasukan negaranya siap melancarkan serangan terhadap rezim Suriah atas tuduhan serangan-serangan dengan menggunakan senjata kimia.

Suriah bertekad akan mempertahankan diri terhadap setiap serangan dengan langkah-langkah "mengejutkan", sementara sekutu-sekutu erat Rusia dan Iran memperingatkan penggunaan kekuatan akan menimbulkan konsekuensi di kawasan itu.

Ketika berbicara di Brunei, Hagel mengatakan militer AS siap bertindak jika Presiden Barack Obama memberikan perintah.

"Kami siap. Kami telah memindahkan aset-aset yang ada untuk memenuhi dan mematuhi pilihan apapun yang Presiden ingin ambil," kata dia. "Kami siap lakukan, seperti itu," katanya sebagaimana dikutip AFP.

Surat kabar the Washington Post yang mengutip beberapa pejabat senior pemerintah AS melaporkan aksi seperti itu mungkin akan berlangsung tak lebih daripada dua hari dan melibatkan peluru-peluru kendali atau pembom jarak jauh, menyerang sasaran militer tidak terkait langsung dengan gudang senjata kimia Suriah.

Di Paris, Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan negerinya "siap menghukum" mereka yang berada di belakangan tuduhan serangan-serangan kimia. Para pegiat oposisi Suriah mengklaim serangan-serangan itu membunuh ratusan orang di pinggiran-pinggiran Damaskus, ibu kota Prancis pekan lalu.

Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad membantah keras bertanggung jawab dan malah menuduh kaum pemberontak yang menggunakan senjata kimia.

Hollande juga mengatakan Prancis akan meningkatkan dukungan militer bagi Koalisi Nasional Suriah yang beroposisi dan akan bertemu dengan ketuanya, Ahmad al-Jarba, pada Kamis.

Inggris menyatakan pasukannya membuat rencana-rencana kontingensi untuk aksi di Suriah, dan Perdana Menteri David Cameron memanggil para anggota parlemen dari libur musim panas untuk memperdebatkan krisis itu.

Namun Wakil PM Nick Clegg mengatakan Inggris tidak bermaksud menggulingkan Bashar.

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan dugaan serangan senjata kimia merupakan "kejahatan terhadap kemanusiaan" yang tak dapat dimaafkan.

Presiden Rusia Vladimir Putin, yang negerinya telah memberi perlindungan diplomatik kepada rezim Suriah dengan menghalangi aksi Dewan Keamanan PBB, tak merasa terkesan dengan apa yang Barat sebut bukti kekejaman.

Dia mengatakan kepada Cameron pada Senin tak ada bukti Damaskus telah menggunakan senjata kimia, kata kantor PM Inggris.

Tetapi juru bicara Gedung Putih Jay Carney, Selasa, mengatakan "tak ada keraguan" rezim Suriah melancarkan serangan senjata kimia, yang diyakini telah membunuh ratusan warga sipil.

Dan Carney mengatakan Washington akan membebaskan rincian intelejen tentang serangan-serangan tersebut, mungkin pekan ini.

Menlu Rusia Sergei Lavrov telah mengatakan Moskow tidak akan terlibat dalam konflik militer, dan telah memperingatkan intervensi itu akan mempunyai "konsekuensi bencana besar" bagi Timur Tengah yang rentan.

Kemungkinan AS Serang Suriah Kamis Pekan Ini

Amerika Serikat dan negara-negara Barat tengah mematangkan rencana penyerangan mereka ke Suriah. Sebuah sumber di pemerintahan AS mengatakan, serangan kemungkinan akan dilakukan pada hari Kamis pekan ini.

Kepada NBC News, Selasa 27 Agustus 2013, sumber yang tidak disebutkan namanya ini mengatakan, Kementerian Pertahanan AS saat ini telah merampungkan rencana untuk penyerangan selama tiga hari. Menurutnya, serangan ini bukan untuk menggulingkan Assad, tapi sebagai pesan bagi pasukan Suriah untuk tidak membantai rakyat sipil.

Sumber menjelaskan, serangan kemungkinan besar akan diluncurkan dari kapal perang Angkatan Laut atau kapal selam di Laut Mediterania. Dalam beberapa hari terakhir ini, AS telah merapatkan kapal perangnya ke Suriah, yang terletak di wilayah timur Mediterania.

AS diperkirakan akan menggunakan rudal Tomahawk. Rudal ini memiliki presisi sempurna, tidak hanya mampu mengincar gedung, bahkan jendela tertentu dalam bangunan itu bisa ditarget. Rudal ini bahkan bisa ditembakkan dari wilayah paling barat Mediterania.

Menurut sumber di Angkatan Laut AS, empat kapal perang destroyer telah siap melancarkan serangan, USS Barry, USS Mahan, USS Ramage dan USS Gravely. Selasa waktu setempat, kapal destroyer armada ke lima pembawa rudal jelajah, USS Stout, juga telah memasuki Mediterania melalui Selat Gibraltar. Namun USS Stout tidak akan ikut serta dalam penyerangan.

"Empat destroyer yang sekarang telah ditempatkan memiliki lebih dari cukup rudal jelajah," kata sumber.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat terus memuntahkan tuduhan mereka terhadap Suriah yang menggunakan senjata kimia membantai warganya. Tudingan terbaru datang dari Wakil Presiden Joe Biden.

"Tidak ada yang meragukan bahwa pria, wanita dan anak-anak yang tidak berdosa telah menjadi korban serangan senjata kimia di Suriah, dan tidak ada yang meragukan yang bertanggung jawab atas kejahatan yang mengerikan ini adalah rezim Suriah," kata Biden.

Dukungan Prancis dan Inggris

AS mendapatkan sokongan dari Prancis dan Inggris yang sama-sama mengeluarkan kecaman keras atas kekejaman di Suriah. Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan bahwa mereka siap menghukum mereka yang membantai rakyat sipil.

Perdana Menteri David Cameron mengatakan bahwa sudah saatnya Barat tidak tinggal diam lagi menghadapi tragedi kemanusiaan di Suriah. "Jika kita diam saja, kita telah membuat preseden berbahaya, diktator dan pemimpin brutal akan menganggap bisa lolos setelah menggunakan senjata kimia di masa depan," kata Cameron.

Italia menyatakan tidak akan ikut dalam serangan ke Suriah. Pemerintah Italia mengatakan, perlu ada konsensus di Dewan Keamanan PBB sebelum serangan dilakukan. Namun Barat bersikeras, tidak perlu ada kesepakatan di DK PBB, karena gentingnya situasi. Lagipula, seluruh keputusan DK PBB akan diveto oleh antek Suriah, yaitu Rusia dan China.





Sumber : Antara

0 komentar:

Posting Komentar